Analisis Semiotika Visual Simbolisasi Wuku pada Perancangan Card Game Fantasi sebagai Media Edukasi Budaya Bali

Authors

  • I Made Marthana Yusa Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Bisnis dan Desain Kreatif, Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia, Denpasar, Indonesia
  • Ketut Karunia Artayoga Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Bisnis dan Desain Kreatif, Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia, Denpasar, Indonesia
  • Ngakan Putu Darma Yasa Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Bisnis dan Desain Kreatif, Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia, Denpasar, Indonesia

Keywords:

Card Game, Desain Karakter, Semiotika Peirce, Simbolisasi Visual, Wuku Bali

Abstract

Penurunan pemahaman generasi muda terhadap sistem penanggalan Pawukon Bali, khususnya konsep visualisasi Wuku, melatarbelakangi kebutuhan akan media pembelajaran yang interaktif dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam visualisasi simbolik dari 30 karakter Wuku beserta atribut kosmologisnya (Dewa, Pohon, Burung, dan Gedong) pada produk Wuku Fantasy Card Game melalui lensa semiotika triadik Charles Sanders Peirce. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang dipadukan dengan pengumpulan data primer melalui wawancara akademisi budaya, kuesioner preferensi visual Generasi Z, dan uji ahli. Hasil analisis menunjukkan bahwa elemen grafis kontemporer—yang meliputi stilisasi ilustrasi fantasi semi-realistis, palet warna alam spiritual Bali, tipografi fungsional-sakral, dan pembagian tata letak proporsional 65:35—berhasil bertindak sebagai representamen yang merepresentasikan objek budaya secara akurat. Klasifikasi trikotomi kedua Peirce (ikon, indeks, dan simbol) membuktikan bahwa permainan kartu ini mampu bertindak sebagai sistem tanda terpadu yang memediasi pemahaman nilai-nilai spiritual tradisional kepada pemain tanpa menimbulkan distorsi makna budaya asal. Pengujian keandalan menunjukkan persentase kelayakan materi sebesar 96% dari ahli konten, 72% dari ahli media, dan tingkat penerimaan fungsional sebesar 90% dari target audiens, yang menegaskan efektivitas media ini sebagai instrumen preservasi budaya yang dinamis.

Downloads

Published

2026-07-22