Dinamika Distorsi Kognitif Akibat Paparan Konten Mental Health Di Media Sosial
Keywords:
Distorsi Kognitif, Media Sosial, Mental Health, Self-Diagnose, Bimbingan Dan KonselingAbstract
Perkembangan media sosial telah mengubah cara remaja mengakses dan memproses informasi kesehatan mental. Konten mental health yang tersebar luas di platform digital seperti Instagram, TikTok, dan YouTube mendorong munculnya fenomena self-diagnose, yakni kecenderungan individu mendiagnosis kondisi psikologis dirinya sendiri tanpa dasar klinis yang memadai. Fenomena ini berisiko menimbulkan distorsi kognitif—pola pikir yang menyimpang dari realitas—yang dapat berdampak pada kesejahteraan psikologis remaja secara signifikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme terbentuknya distorsi kognitif pada remaja akibat paparan konten mental health di media sosial, mengidentifikasi bentuk-bentuk distorsi kognitif yang muncul, serta merumuskan implikasinya terhadap layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di era digital. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi literatur sistematis terhadap sumber-sumber jurnal ilmiah dan buku yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa algoritma media sosial memperkuat paparan konten yang sesuai dengan kondisi emosional pengguna, sehingga meningkatkan risiko pembentukan distorsi kognitif seperti catastrophizing, labeling, dan overgeneralization. Temuan ini mengimplikasikan perlunya transformasi layanan BK yang responsif terhadap literasi digital kesehatan mental remaja.